Rhoma: Dangdut Koplo Bukan Bagian Dangdut !!

 Goyang erotis, porno, vulgar alasan Rhoma larang Dangdut koplo jadi bagian Dangdut
Meskipun secara instrumen, irama serta goyangan sama dengan ciri khas yang ada pada musik Dangdut secara umum namun ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa musik koplo itu bukan merupakan bagian Dankdut. Salah satunya adalah sang raja sendiri, Rhoma Irama, yang berpendapat seperti itu. Bahkan secara terang-terangan, Rhoma mengecam musik ini lantaran menjadi sebab tumbuh suburnya penyanyi erotis atau goyang erotis dan melarang penggunaan kata Dangdut di depan kata koplo dengan alasan telah menyimpang dari pakem.

Pendapat beliau ini sebenarnya masih berkaitan dengan konflik antara beliau dengan Inul Daratista perihal goyang ngebor beberapa tahun yang lalu. Menurutnya, Inul yang pertama berjasa mempopulerkan aliran koplo di seluruh Indonesia ini mengajarkan goyangan erotis kepada lainnya terutama di tingkat lokal/daerah. Sehingga dikhawatirkan suatu saat nanti akan muncul dan lahir penyanyi dengan goyangan-goyangan erotis lain. Namun, seperti kita ketahui, konflik ini sebenarnya melahirkan pro-kontra berkepanjangan yang justru semakin mengangkat popularitas Inul dan genre koplo itu sendiri.

Kekhawatiran Rhoma tersebut ternyata benar adanya. Setelah koplo semakin ngetrend dan populer di Indonesia, muncul beberapa biduan pendatang baru yang dengan sengaja bergoyang lebih erotis dari sekedar goyang ngebornya Inul. Mereka mungkin berasumsi, bahwa dengan cara seperti itu siapa tahu akan bernasib sama dengan Inul. Namun begitu, banyak juga biduan pendatang-pendatang baru yang tetap menjaga nilai-nilai etika dan estetika, norma masyarakat dan agama.

Oleh karena itu, jika yang menjadi alasan Rhoma mengecam koplo itu didasarkan pada beberapa penyanyi erotis yang lahir akibat genre baru ini, lalu bagaimana dengan mereka-mereka (pendatang baru) yang masih peduli dengan nilai etika dan estetika?. Dan bagaimana jika ada sebuah orkes melayu non koplo ketika pentas, biduannya membawakan lagu-lagu original akan tetapi beraksi amoral seperti misal penyanyi bebas dipegang dan digerayangi di panggung, apakah orkes melayu dan penyanyi itu masih dianggap sebagai bagian dari Dankduth? dan bagaimana juga jika sebuah grup Dankdut Koplo seperti OM. New Pallapa, SERA, Monata, Sagita dan lainnya ketika pentas penyanyinya tampil elegan, sopan dan estetik di panggung?, apakah masih juga dilarang menjadi bagian dari Dankdoet?. Jangan lupa juga untuk menilai hal tersebut untuk penampilan biduan-biduan organ tunggal/electune.

Kami sendiri juga masih bingung dengan pernyataan "telah menyimpang dari pakem". Standar apa yang digunakan untuk mengklaim bahwa sebuah aliran itu menyimpang dari pakem? apakah irama, alat musik yang digunakan atau yang lain. Jika karena iramanya yang dinilai, seharusnya beliau dulu juga menolak genre baru atau cabang dari musik ini, seperti Pop-Dut, Rock-dut, Disco-dut, Ska-dut, Cong-dut, Campursari-dut, dan sebagainya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, untuk kali ini kami tidak sependapat dengan bang Haji terkait dengan kecaman atau larangan Dangdut Koplo bukan bagian dari Dangdut dengan alasan, pertama meski benar bahwa aliran ini menjadi sebab lahirnya aksi beberapa biduan porno dan erotis, tapi masih banyak juga pendatang baru yang tetap menjunjung tinggi moral, etika dan estetika saat pentas. Hal ini sama saja ketika pada awal 90an musik ini meledak, ada yang positif ada juga yang negatif terutama di tingkat daerah. Hanya saja yang membedakan saat itu, musik ini belum begitu terekspos oleh media karena memang saat itu masih sangat sedikit dan terbatas, tidak seperti sekarang. Kedua, dari segi irama dan alat musik yang digunakan, koplo justru lebih identik dengan Dankdut dibandingkan dengan cabang lain seperti, disco-dut, pop-dut, ska-dut, reggae-dut, house-dut, chacha-dut yang pernah lahir sebelumnya dan tidak pernah ada kecaman atau larangan. Ketiga, secara umum semua aliran musik itu adalah hasil kreatifitas seniman di masing-masing periode yang tetap mengandung unsur nilai seni. Keempat, yang dilarang seharusnya bukan pada alirannya tetapi oknum yang telah menyalahgunakan untuk hal-hal negatif, terutama penyanyi.

Posting ini sebagai respon dari berita yang bersumber dari : http://musik.kapanlagi.com/berita/rhoma-irama-musik-komplo-menyimpang-dari-dangdut.html

Kategori :

inforhoma-irama

7 komentar

Hebat..penulisnya...salut..benar2 pengamat dangdut nih...ane setuju aja kalo hanya karena satu dua penyanyi Dangdut Koplo, terus Dangdut koplo Ga dianggep Dangdut..so Apa??...Dulu waktu aku masih kecil dan belum ada dangdut koplo banyak kok penyanyi Dangdut seronok, porno,erotis..tapi kenapa masih jadi bagian Dangdut??

Hati2 jeng Rina, jaman udah "usang"... Terlepas dari masalah dangdut atau bukan dangdut, erotisme yang disuguhkan oleh dangdut koplo sudah menjurus pada kemaksiatan alias tidak mencerminkan seni, apalagi budaya (coba buka di youtube). Dan dijaman yang sudah "usang" ini, hanya orang2 terpilihlah yang dianugerahi kemampuan untuk membedakan antara seni dan maksiat. Astaghfirullah.......

Tidak selamanya begitu mas unknown..kelahiran dangdut koplo-pun saya pikir sedang bereksplorasi, mencari titik yang tepat. Penyalahgunaan dan penyelewengan dengan aksi erotisme itu hanya dilakukan oleh sebagian penyanyi yang dengan sengaja menjurus ke arah tersebut. Tidak bisa disamaratakan untuk semua penyanyi yang sedang bernyanyi dengan iringan dangdut koplo, masih banyak yang santun, bahkan sekarang sedang digalakkan memakai hijab. Tentunya saudara juga bisa membedakan oknum perusak dengan obyek yang dirusak. Bagiamana anda menilai juga jika sebuah grup nasid/kasidah beriramakan koplo?...kenapa hanya memandang dari penyanyi2 yang tampil vulgar, coba nilai penyanyi yang juga masih bersantun dalam berpakaian dan juga bergoyang....saya sendiri jelas tidak setuju apapun bentuk erotisme itu. baik di dangdut asli ataupun dangdut koplo...dan jika kita lebih memandang lebih luas lagi..konser pentas bertajuk religi pun di dalamnya ada unsur kemaksiatannya....

saya kira yg jadi masalah bukan musiknya mas2/mbk2 skalian..yg jadi masalah sbnrnya adalah vokalisnya yg mungkin emang sdh gak tahu tata krama/kemaksiatan..

Betul sekali pendapat mas Prana Aditya..segala bentuk seni itu indah, termasuk musik, yang bisa menodai itu hanyalah oknumnya bukan pada musiknya..ibarat begini, jika dangdut koplo itu didengarkan lewat radio, apakah kita akan tahu bagaimana aksi penyanyi dangdutnya?...

Jujur saya sedih melihat dangdut sudah jauh sekali "berubah", makin banyak dibumbui dengan kreativitas2 baru dan entah itu memang baik ataupun tidak bagi penikmat dangdut Indonesia. Bahkan di televisi2 Nasional sangat sering ditayangkan lagu2 dangdut yang sudah tidak asli lagi. Kalau menurut saya jauh lebih enak mendengar dangdut pure tentunya dengan lirik dan aransemen yang berkualitas. Sekarang dangdut remix lah, dangdut rock lah, dangdut k*plo lah, dan entah apa lagi nanti. Sebagai masukan saja, koplo itu kan musik milik salah satu etnis di negara Indonesia, tapi ditayangkan di acara TV Nasional yang notabenenya milik kita (INDONESIA), bahkan berbahasa etnis tertentu apa gak terasa sedikit rasis?. Perlu diingat, dangdut itu bukan milik Etnis A, B atau C, tapi milik Indonesia yang punya bermacam etnis budaya. Kita tinggal dalam Negara Indonesia bukan negara bernama "Etnis A", "Etnis "B, ataupun "Etnis C". Jika anda sangat membanggakan budaya anda silahkan, tapi jangan pakaskan untuk etnis lain juga menyukainya, itu namanya memperjuangkan monopoli suatu budaya. Maka rasa nasionalisme anda perlu dipertanyakan. Cinta suku anda atau lebih cinta negara anda?? Kita itu beragam, bukan seragam.

Ibaratnya dangdut itu kopi, dan koplo itu susu.. Kalo dicampur akan menjadi kopi susu. Tentunya kopi tersebut tidak akan sama seperti rasa kopi sebelum dicampur susu.. dan kopi itu tidak bisa lagi hanya disebut kopi, karena sudah dicampur susu. Lambat laun akan hilanglah identitas sebenarnya dari kopi tersebut.

Mohon koreksi jika saya salah..

Yang namanya pendapat sih silakan saja berbeda, tinggal bagaimana cara saling menghargainya...

Apa benar, dangdut koplo itu dapat mengurangi rasa nasionalisme seseorang, karena koplo dianggap berasal dari etnis tertentu. Bukankah banyak budaya lokal yang lalu dijadikan sebagai budaya nasional, seperti Batik misalnya.

Simpel saja, seandainya musik koplo itu diangkat atau dijadikan budaya nasional sebagaimana Dangdut, tentu saja hal itu tidak lagi mewakili etnis saja, tapi sudah menjadi karya bangsa Indonesia.

Pola permainan kendanglah memang yang membedakan. Kalo Dangdut klasik/lawas itu pola permainananya berasal dari INDIA (dan tentu masnya juga tahu) yang kemudian diklaim sebagai bagian dari budaya bangsa, sedangkan koplo itu pola permainannya berasal dari etnis Indonesia. Kalau dibawa ke rasa nasionalisme, lebih nasionalis mana permainan kendang yang berasal dari India atau budaya/etnis Indonesia?.

Sudah ribuan komentar yang terhapus dan dianggap SPAM/ dan melanggar, oleh karena itu jika komentarnya ingin muncul, berkomentarlah sesuai dengan isi posting. Jangan komentar dengan meninggalkan link atau kata-kata singkat seperti Sip gan, Mantaps gan, Terimakasih Gan, Goyang yuk, dan sejenisnya. Komentar setidaknya 3-5 kalimat yang berhubungan dengan posting