Kafe-Kafe Dangdut Populer Di Jogja

Salah satu aksi penyanyi Di Kafe Dangdut terpopuler Jogja

Dangdut tak hanya dikenal atau bisa ditonton di lapangan, tempat-tempat terbuka lain. Dangdut juga tidak hanya bisa disaksikan di layar kaca (TV), media internet seperti Youtube dan didengarkan melaui player, radio atau mp3, tapi juga ada di tempat-tempat khusus atau tempat tertutup seperti di bar atau kafe Dangdut di seluruh Indonesia dan salah satunya adalah Jogja.

Berbicara Kafe di Jogja, secara jumlah mungkin masih jauh tertinggal dengan kota-kota besar lain di Indonesia, seperti Surabaya, Semarang, Jakarta, Bandung dll terlebih untuk Dankduts. Namun jangan salah, sejak boomingnya Dangdut Koplo, perkembangan tempat-tempat hiburan malam di Yogya lumayan signifikan dalam sepuluh tahun terakhir. Jumlah tempat hiburan malam yang dulu hanya satu dua saja, sekarang sudah mencapai 9 tempat/lokasi.

1. CALIPSO CAFE (THR Purawisata) alamat: Jl Brigjen Katamso No.2 live mulai pukul 21.00-00.00 (kecuali Malam Sabtu, Malam Senen dan Malam Rabu).
Grup pengsisi : Latansa (Malam selasa), Satria (Malam Kamis), OBB (Malam Jumat), Bintang Tamu (Malam Minggu)

2. MONTANA CAFE, Komplek Seturan (Selokan Mataram) Setiap Hari Non stop live mulai 23.00-02.00
Grup Pengisi: Cool Chas (Malam Senin), OM. Permata (Malam Selasa), OM. BOLO-BOLO (Malam Rabu), OBB (Malam Kamis), OM. Jaya Manunggal (Malam Jumat), BOLO-BOLO (Malam Sabtu), Cool Chas (Malam Minggu)

Keterangan : Sudah ditutup dan berganti nama menjadi Nevada Cafe dengan alamat yang baru di jl. Nologaten Yogyakarta.

3. WAROENG GENDHING, alamat: Jl. Godean Setiap Hari non-stop live mulai 23.00-02.00
Grup Pengisi: GILAS (Malam Selasa, Malam Rabu, Malam Kamis, Malam Jumat, Malam Sabtu), Bintang Tamu (Malam Minggu), OM. Saya Lupa (Malam Senin)

4. OBOR CAFE, alamat: Jl. Seturan, komplek selokan Mataram live mulai 23.30-02.00
Grup Pengisi: BOLO-BOLO (Malam Senin) dan OM. Permata (Malam Jumat)

5. PALMS,  Alamat Komplek dekat terminal lawas, Umbulharjo, live 21.00-00.00
Grup Pengisi (Electune-Dut) dan rencana akan diisi juga oleh grup

6. TOMORA (LIPU CAFE),  Alamat komplek seturan dan Selokan Mataram
Grup Pengisi (Dangdut: Bolo-Bolo (malam Rabu), Gilas (malam Senin))

7. JOGLO PARIS,  alamat: Jl. Parangtritis, dekat dengan lokasi pantai Parangtritis
Grup Pengisi: Maharani, Coolchas (Jadwal lengkap menyusul)

Keterangan : Sepertinya sudah tutup

8. LEAGUE, alamat: Jl. Magelang live setiap hari mulai 23.00-02.00
Grup Pengisi: Maharani, Ershinta, Jaya Manunggal, Khavindra (jadwal lengkap menyusul)

Keterangan : Alamat sudah berpindah, namun kami belum mendapat informasi terbarunya.

9. BAMBOO RESTO, alamat: Jl. Veteran No.1 live mulai pukul 22.30-02.00 tiap Malam Rabu dan Malam Senin
Grup Pengisi: BOLO-BOLO, dan New Satria (Malam Kamis dan Malam Senin)

Mungkin info ini berguna untuk anda yang belum tahu seluk beluk dunia malam khususnya di kota 'pendidikan dan pariwisata', bagi anda yang sudah tahu dan atau sudah berlangganan, tentu tak asing lagi bagaimana sebenarnya nuansa atau aksi-aksi penyanyi Dangdut di kafe Dangdut baik di Yogyakarta atau daerah lain. Gambar/foto di atas merupakan sedikit gambaran tentang aksi penyanyi di bar atau klub malam di Yogyakarta.

Semoga daftar dan alamat kafe-kafe Dangdut Populer di Jogja bermanfaat bagi anda yang mau atau sedang berlibur atau berkunjung ke kota Yogyakarta dan butuh hiburan musik goyang..asololey...

Update terakhir: Calipso Cafe yang lebih terkenal dengan THR Purawisata Jogja yang pernah menjadi barometer Dangdut Jogja, saat ini sudah tutup. Begitu juga dengan Montana Cafe

Ini Dia Ratu Dangdut Malaysia Terheboh, Amelina!


Amelina Ratu Dangdut Malaysia Saat Masih Berjaya
Menurut salah seorang wanita yang bernama Puteri Dangdut, di akun Myspace ia mengatakan bahwa Dangdut pernah menjadi musik favorit di Malaysia sekitar tahun 1995-1998. Artis yang paling populer dan heboh saat itu adalah Amelina yang mendapat julukan Si Ratu Dangdut Malaysia, lalu disusul dengan banyaknya  pendatang baru seperti Mas Idayu, Shikin, Ani Mayuni, Haiza, Leina Hangat, Ifa Raziah, Sheeda dan beberapa artis lain. Sementara lagu Dangdut yang menjadi hits saat itu adalah Rindu Ah Ah Ah, Asyik, Semakin Rindu Semakin Asyik koleksi Amelina yang terjual 200.000 ribu copy, Robek Hatiku, Senggol-sengolan milik Mas Idayu dan Angkat Kaki
lagu yang dinyanyikan oleh Sheeda.

Namun sayang seribu sayang, merebaknya kontroversi "underwear", yang konon digosipkan berselingkuh dengan Iwan, salah satu pasangan duetnya, (penyanyi Dangdut laki-laki top Malaysia yang sukses dengan salah satu tembang "Yang Sedang-Sedang Saja" ..Dia tidak cantik mak..dia tidak jelek mak..yang sedang-sedang saja..yang penting dia setia..), lama kelamaan musik ini agak kurang mendapat tempat (tidak populer lagi) di hati masyarakat.

Bahkan, setelah mengeluarkan album terakhir yang berjudul Cinta Oh Cinta, Amelina juga Iwan dikabarkan telah menghilang dari peredaran musik dan media hingga kini.

Salah satu lagu Dangdut yang berjudul Rindu Ah Ah Ah milik Si Ratu Dangdut Malaysia, Amelina bisa anda saksikan di bawah ini



Terlepas dari kontroversi tersebut, Amelina sangat berjasa terhadap perkembangan Dangdut yang mampu menghebohkan dan menjadi musik terpopuler Malaysia saat itu. Hal tersebut semakin menguatkan klaim bahwa Dangdut telah mendunia

Dalam posting sebelumnya disebutkan, selain di Malaysia, musik asli bangsa Indonesia juga telah diterima di berbagai negara, diantaranya di Jerman dengan model Dangdut Cowboy dan munculnya beberapa Grup dan penyanyi Dangdut di Jepang.

Sumber Referensi:  

[1.] http://www.myspace.com/cicifaramida. 
[2.] http://www.facebook.com/media/set/?set=a.302783219757703.63636.209185525784140&type=3 
[3.] http://ms.wikipedia.org/wiki/Amelina
[4.] http://lanmamat.blogspot.com/2008_08_01_archive.html

Gila! Nonton Dangdut Koplo Sambil Masturbasi

Mungkin karena penyanyi bugil, telanjang, erotis atau yang lain?

Mungkin lucu atau bahkan tidak percaya ketika anda membaca judul nonton pentas dangdut sambil masturbasi. Ya, judul tersebut saya angkat dari cerita dari kejadian fakta dan nyata yang saya lihat dengan mata kepala sendiri, yang terjadi ahan tahun 2002 (awal-awal populernya genre Koplo) di sebuah desa pegunungan Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Sang pelaku tersebut adalah lelaki paruh baya yang mungkin saja memiliki kelainan seksual jika dilihat dari sudut pandang ilmu kesehatan psikologi.

[Pendahuluan]
Waktu itu saya menghadiri sebuah hajatan nikah di sebuah desa yang sangat jauh dari keramaian kota, dan masih satu kecamatan dengan lokasi di mana saya tinggal. Selain itu, letak desa tersebut juga berada di dataran tinggi seperti pegunungan. Meski jauh, saya bersama rekan saya tetap bersemangat menghadirinya, selain acara teman sendiri juga karena ada hiburan pentas Dangdut di hajatan itu.

[Di lokasi]
Sambil menikmati hidangan yang disediakan, awalnya saya begitu menikmati alunan musik dari grup dan biduan yang ditanggap pihak tuan rumah (ada sebagian musisi yang saya kenal).  Sebuah tembang koleksi lawas milik Rita Sugiarto yang berjudul Pria Idaman, yang dilanjut dengan tembang Bimbang milik Elvy Sukaesih saat itu begitu apik dibawakan baik oleh grup dan penyanyi tersebut yang saya lupa namanya.

Dengan sound system ala kadarnya, alat musik yang menurut saya di bawah standar dan panggung yang hanya terbuat dari papan kayu yang ditumpuk di atas drum, tidaklah mengurangi kemeriahan dan semangat bagi para musisi, penyanyi serta penonton.

Di awal pentas tersebut sebenarnya semua berjalan lancar dan normal, terlebih tembang-tembang yang di bawakan adalah koleksi tembang-tembang lawas yang masih enak untuk didengarkan dan lagunya pun digarap secara klasik alias non-koplo. Namun ketika suasana semakin panas di pertengahan waktu konser tersebut, iringan/aransemen tembang yang dipentaskan berubah menjadi Koplo. Bahkan hampir semuanya dijadikan koplo.

Mungkin musisi dan penyanyi tak tahan mendengar teriakan-teriakan penonton yang terus menerus meminta agar setiap lagu yang ditampilkan dikoplo. Suka atau tidak, mau atau tidak akhirnya setiap lagupun dikoplo.

Memang nampak perbedaan, ketika sebuah lagu dibuat koplo. Lagu yang pada dasarnya bertempo lambat berubah menjadi cepat dan lebih bersemangat dan lebih asyik untuk bergoyang, baik bagi musisi dan penyanyi atau penonton itu sendiri.

Di tengah kerumunan penonton yang sedang bersemangat joget karena berirama koplo tersebut, tiba-tiba ada sebuah kejadian unik, aneh dan mungkin menggelikan (bagi saya memalukan), seorang  laki-laki paruh baya tanpa rasa malu terlihat sedang melakukan onani . Si saksi pertama yang melihat orag tersebut secara spontan sambil tertawa, berteriak di kerumunan massa "..woii...deleng kae ana wong ngiclik..ana wong ngcilik..mit amit jabang bayi..". Sontak orang-orang yang mendengar teriakan itupun matanya beralih menuju ke arah si laki-laki tersebut.

Gila kali tuh orang..tidak juga !...atau mungkin kelainan?..ya...ada istilah dalam kesehatan mental tentang kelainan orang semacam itu, namun saya lupa...tapi kalau tidak salah kelainan orang tersebut adalah exhibionist. Coba cek saja di google atau yang lain. Yang jadi pertanyaan, kira-kira orang tersebut melakukan hal yang memalukan itu disebabkan nafsu syahwat yang memuncak setelah melihat aksi penyanyi dangdut hot atau memang ada kelainan dalam diri orang tersebut. Dalam ilmu kesehatan, istilah tersebut lebih populer dengan eksibisionisme. Untuk lebih paham apa itu eksibisionisme, silakan baca di wikipedia.

Itulah cerita yang sampai saat ini saya kadang membuat saya tertawa sendiri kalau teringat kejadian tersebut. Tapi terlepas dari cerita tersebut, saya hanya ingin menyampaikan bahwa tidak selamanya dangdut itu identik dengan hal-hal negatif (terutama yang dilakukan oleh sejumlah penyanyi), tak selamanya musik Dangdut hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, atau senang-senang saja, tapi banyak juga nilai positif yang tentunya bermanfaat. Misalnya dengan mengambil hikmah dari syair lagu-lagu Dangdut yang inspiratif, menjadi motivasi diri, menggugah semangat dan sebagainya.

Terjemahan Jawa-Indonesia
Deleng = Lihat
Kae = Itu
Ana = Ada
Wong = Orang
Ngiclik = Masturbasi (mencari kepuasan seksual dengan berfantasi, memandang obyek tertentu)

Review Moneta Rock-Dut Surabaya


Meskipun saat ini mayoritas grup-grup di Jawa Timur berhaluan Koplo, namun Moneta Surabaya mempertahankan eksistensinya dengan tetap berada di jalur Rock-dut. Grup ini tidak pernah mundur sekalipun atau ingin menghilangkan dan merubah "label" Rock-Duthnya meski untuk saat ini kalah popularitas dengan grup-grup yang murni bergenre koplo 100%. Hal ini bukan berarti grup ini anti-pati terhadap keberadaan atau eksistensi Dangdut koplo, cuma porsinya sedikit.

Grup yang dikawal oleh Imron Sadewo ini pada masanya (sebelum koplo lahir) adalah yang paling terkenal (tentunya selain Soneta Group pimp. Rhoma Irama) dan menjadi barometer bagi musisi atau grup lain, tidak hanya di Jawa Timur tetapi hampir di seluruh Indonesia.

Moneta Rock Dangdut Cover Album Perdana
Ketika Evita Project (Evie Tamala) digandeng grup ini untuk bekerjasama dalam menelorkan album perdananya yang bertajuk "TUMBAL", popularitas MONETA semakin menanjak tajam, terlebih ketika sebuah lagu dalam album tersebut yang berjudul Cinta Terlarang atau yang lebih populer dengan KANDAS (duet) sukses meraih pasar "dengar" masyarakat saat itu. Hampir satu juta copy atau mungkin lebih (jika dihitung dengan kaset bajakan) kaset tersebut terjual karena memang faktor lagu Kandas tersebut (ket. gambar). Sejak saat itu, Moneta sering diundang untuk menjadi pengiring artis-artis Ibukota di berbagai stasiun TV swasta nasional.

Adalah Friez Arsudi, sang pembesut melody gitar (salah satu gitaris Dangdut terbaik di Indonesia) memiliki gaya dan sentuhan ala Ingwy Malmsteen (salah satu gitaris terbaik dunia sepanjang masa). Begitu juga kehebatan Didik dalam menggebuk bedug londo (drum) dan rancak gendang tablanya. Imron Sadewo yang begitu lihai dan piawai memainkan "slapp bassnya". Permainan suling yang begitu mendayu-ndayu dan pijitan Piano dari salah satu pianis terbaik Jawa Timur (pada masanya), ditambah dengan harmonisasi saxophone dan trompet menjadikan Rock-Duth ini lebih menunjukkan permainan kualitas musik grup.

Mungkin bagi anda koplo-mania (dalam arti masyarakat awam) tak begitu mengenal (ataupun suka) dengan grup ini atau kalah popularitasnya dibandingkan dengan OM. Sera, New Pallapa, Monata atau bahkan Sonata dan apapun alasannya mereka akan tetap lebih menyukai grup-grup koplo itu. Namun bagi seniman atau musisi dan pengamat musik Dangdut tentu akan berbeda dalam menilai Moneta terutama dilihat dari musikalitas atau skill permainan individu musisi, sehingga tak segan-segan menganggap bahwa Moneta merupakan salah satu grup Dangdut terbaik di Indonesia, terlebih improvisasi musiknya yang begitu luar biasa dan membuat decak kagum musisi lain.

Perlu diberitahukan juga (bagi masyarakat awam fans baru penggemar koplo) bahwa lagu Akhir Sebuah Cerita (yang dipopulerkan ulang oleh Shodiq Monata) itu adalah salah satu lagu karya Moneta Rock-dut Surabaya yang juga tercantum dalam album "TUMBAL". Khusus di Jogja, lagu ASC tersebut (yang rata-rata baru mengenalnya setelah lagu itu dipublikasikan oleh Shodiq) pertama kali ditampilkan oleh GILAS Progressive Jogja tahun 2002  di saat masih banyak yang belum mengetahui atau menampilkannya. Selain itu, lagu yang berjudul "AKU" dalam album "Tumbal" tersebut bahkan sudah ditampilkan oleh grup Kasidah Al-Jami'ah, IAIN Sunan Kalijaga Jogja pada tahun 1999.

Hal tersebut membuktikan bahwa dulu grup asal Surabaya itu merupakan salah satu barometer musisi dan grup lain dan juga lebih dulu dikenal oleh musisi atau grup Dangdut, baik di Jawa Timur sendiri atau di daerah lain.

Namun roda zaman terus berputar, beberapa tahun belakang ini grup yang juga memproduksi lagu populer "Kandas" semakin lama semakin kalah popularitasnya dengan grup koplo di mata masyarakat umum (namun tidak bagi musisi tentunya). Meski banyak musisi atau grup lain yang menyayangkan "tenggelamnya" grup yang mulai populer di akhir tahun 90-an, tapi begitulah fakta yang tak mungkin dipungkiri saat ini. Yang jelas bagi kami, musisi dan grup-grup lain (teman-teman kami) tetap menyatakan penilaian bahwa MONETA adalah tetap salah satu grup Dangdut yang terbaik di Indonesia..

Itulah sedikit penilaian dan review dari kami terhadap orkes melayu ini. Silakan simak video konsernya di bawah ini, dan bila anda berkenan silakan berikan penilaian atau review untuk grup tersebut.


Video Youtube ini diunggah oleh Aan Difani
MONETA All Round Music Opening 


Video diunggah oleh Ganas Pathi
Imron Sadewo
MAMA (cipt. Rhoma Irama)

Video diunggah oleh Eny Kediri
Imron Sadewo (bass) Featuring Evie Tamala
BUNGA SYURGA (cipt. Rhoma Irama)



Kalau video ini, selain bisa dinilai dari sisi musikalitas individu pemain, perform dan kekompakkan, sobat bisa menilai dari kualitas audio dan juga video, karena memang recordingnya langsung dari mixer dan juga menggunakan kamera profesional (bukan handycam dan sejenisnya). Hal ini sangat berbeda dari apa yang dihasilkan oleh video konser grup Dangdut favorit Jogja, OM. Bolo Bolo.

NB: Review itu adalah hasil penilaian yang berawal dari pembicaraan/diskusi dari berbagai musisi Dangdut Jogja dan Jawa Tengah seperti:

Deden Mahdyana (Gitaris Gilas), Anton (eks Keyboard Gilas), Afif (Suling Bolo-Bolo, eks gitaris Aljami'ah IAIN Jogja), Yatno (Lead Guitar Bolo-Bolo), Klowor (Bass Bolo-Bolo), Iwan (GILAS), Soleh (eks Suling Ken Arok), Bagong (Lathansa Jogja), Jono (Lathansa), Robert (Suling Maharanie Jogja), Prono (Suling Permata Jogja), Devi (Kendang Cewek Permata Jogja), Rusman (eks Kendang Ki Ageng Ganjur), Aming (eks Kendang Ki Ageng Ganjur), Syamsudin (eks rhytem Ki Ageng Ganjur Jogja), Agus (eks melody Ki Ageng Ganjur), alm. Sriyanto (eks melody Ki Ageng Ganjur Jogja), alm. Pak Min (Eks Gitaris Ken Arok Salatiga), Ateng (Keyboard Kendedes, Solo), Salam (kendang), Bambang (keyboard), Rofik (Piano), Maktum (bass), Nasir (bass), Fathudin (suling), Syaefudin (drum)==> (OG. Al-jami'ah IAIN Suka Jogja), Suheng (Gitaris OM. Sahabat Jakarta, eks gitaris OM. GORO-GORO Jogja), Tahang ( Gitaris fans Ingwy, Kalimantan), Yakub (gitaris Om. Irama Buana Jogja), Edi S (Keyboard GABEL, Kebumen), TOTO (Suling GABEL, Kebumen), Udin (Eks Gitaris OM. Mantara Kebumen)..Dll.